Tumpahan Minyak Cemari Kepulauan Seribu
Perairan bagian selatan Kepulauan Seribu tercemar oleh tumpahan minyak mentah. Belum diketahui asal tumpahan minyak tersebut, dan hingga kini penanganan akibat tumpahan masih berlangsung.
Bupati Pulau Seribu Rahman Andit mengatakan, tumpahan minyak itu terjadi sejak Kamis lalu. Cairan itu menggenang di sekitar empat pulau yang ada di Kepulauan Seribu Selatan, yakni Pulau Pari, Pulau Tikus, Pulau Burung, dan Pulau Payung.
“Cairan karbol atau minyak mentah setebal 1 hingga 20 sentimeter menggenang sejauh dua meter dari bibir pantai Pulau Pari,” kata Rahman melalui sambungan telepon, Minggu (19/10).
Pulau Pari adalah pulau berpenduduk sekitar 150 kepala keluarga yang tergabung dalam satu rukun warga. Pulau lain yang berpenghuni adalah Pulau Payung dengan jumlah penduduk sekitar 20 kepala keluarga. Sedangkan Pulau Tikus dan Pulau Burung tidak berpenghuni.
Menurut Rahman, tim gabungan dari pemerintah kabupaten, kepolisian, badan pengelola lingkungan hidup, dan dinas perhubungan telah diturunkan di lokasi kejadian. “Sabtu lalu kami sudah mengambil sampel (untuk diteliti),” katanya.
Aparat dibantu warga dan salah satu perusahaan minyak yang beroperasi di Kepulauan Seribu, CNOOC, bekerja sama menanggulangi tumpahan minyak. Keterlibatan CNNOC, kata Rahman, karena itu merupakan tanggung jawabnya.
“Berdasarkan aturan migas, operator atau perusahaan minyak terdekat harus bergerak menangani,” ujarnya. “Walau bukan minyak dia yang tumpah, tetapi harus ikut menanggulangi dan mengatasi karena keadaan darurat.”
Rahman sendiri belum bisa memastikan asal atau sumber minyak yang tumpah tersebut. “Selama ini angin dari arah timur, jadi mungkin saja berasal dari Indramayu atau tempat mengolah minyak Balongan,” ujarnya. Rahman telah meminta aparat berwenang menyelidiki dan mengusut asal tumpahan minyak tersebut.
Rahman hanya bisa menghimbau warga Kepulauan Seribu, terutama yang berada di bagian selatan untuk berhati-hati terhadap efek tumpahan minyak pada keramba atau tambak mereka. “Hingga saat ini belum diketahui jumlah kerugiannya,” kata dia.
Sumber: http://www.tempo.co.id/, Minggu, 19 Oktober 2008 | 14:37 WIB
Foto: Alam/Terumbu Online (sekadar ilustrasi)
November 1, 2008 at 10:24 am
Penyakit yang tidak pernah tuntas di kepulauan seribu, ya sampah kiriman dan pencemaran minyak menurut saya ya memang sulit bagi masyarakat pulau untuk membuktikan siapa pelaku pemcemaran minyak, akan tetapi mestinya ada upaya dini dan juga mestinya pemerintah kabupaten menganggarkan dampak tumpahan minyak jika kejadian serupa yang menimpah masyarakat nelayan.untuk mencegah paling tidak ada upaya untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dampak jika tumpahan minyak terkena tubuh kita. thx