A Trip to Kelapa Island

Naskah oleh Hery Sutanto

Hawa dingin pagi masih tersisa di atas dermaga Muara Angke. Penumpang yang akan menyebrang ke Pulau Seribu tampak ramai terutama kapal rute Muara Angke-Pulau Pramuka. Kebetulan hari itu weekand. Selain penduduk Pulau, kapal ini akan mengangkut para turis lokal berlibur ke pulau yang menjadi pusat pemerintaahan Kabupaten Kepulauan Seribu itu. Di sana mereka bisa melakukan snorkling atau diving. Di antara mereka, tampak pula para wisatawan asing.

Melihat animo mereka, saya berharap Pulau Pramuka, juga pulau-pulau lainnya terus berbenah dan mempercantik diri agar wisatawan-wisatan bisa lebih banyak lagi berdatangan. Tak hanya nama Pulau Seribu yang terkenal, perkembangan ini tentu saja bisa bedampak pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal.

Pukul 07.00 kapal yang saya tumpangi meninggalkan dermaga Muara Angke menuju Pulau Kelapa. Oh ya, perjalanan akhir Nopember itu saya lakukan dalam rangka survei masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan persiapan masyarakat menghadapi pemilu 2009. Survei digelar lembaga Survei Indonesia (LSI), yang setiap tiga bulan sekali meng-update data survei secara nasional. Pulau Kelapa terpilih dengan metode random sampling. Dan ini perjalanan saya yang ketiga kali.

Sesampai di Pulau Kelapa saya langsung diantar salah seorang teman ke kantor lurah. Meski hari libur, wakil lurah rupanya masih menyempatkan diri untuk standby di kantor. Katanya, khawatir jika ada warga yang masih memerlukan pelayanan. ”Luar biasa!” pikir saya. Saya lalu utarakan maksud kedatangan saya sekaligus meminta izin menggelar interview kepada 10 orang masyarakat yang namanya terpilih melalui random. Satu Rukun Tetangga dua orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Sementara yang dibutuhkan, lima RT. Jadi, total responden 10 orang.

Setelah dua hari menyelesaikan interview, saya bergegas merapikan data laporan rapikan sehingga sesampainya di Jakarta langsung bisa diserahkan ke koordinator LSI DKI Jakarta. Usai interview, menjelang senja saya menyempatkan diri ngobrol dengan beberapa orang warga yang kebetulan tengah melakukan transplantasi karang, membuat rumah buatan untuk karang-karang agar ikan-ikan bisa menempatinya. Menurut mereka, karang-karang di wilayah ini banyak yang rusak akibat pengeboman dan ulah orang-orang tak bertanggung jawab. Selain menyediakan rumah bagi ikan-ikan berkembang biak, transplantasi ini bisa jadi alternatif tujuan snorkling dan diving.

Hari menjelang malam. Saya menyelesaikan obrolan dan bergegas ke tempat penginapan di Pulau Harapan. Letak pulau ini tersambung dengan Pulau Kelapa melalui dermaga.

Esok harinya saya meninggalkan dua pulau bertetangga itu. Satu pertanyaan sekaligus harapan masih tersisa: kapan Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Lancang dan pulau-pulau lainnya bisa mengikuti jejak pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka sebagai salah satu pulau tujuan wisata di wilayah kepulauan seribu. Semoga saja tak lama lagi…


  1. UtUiaF Thanks for good post




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.