Arus mudik ternyata tidak hanya terjadi di terminal maupun stasiun, karena Pemerintah Kabupaten Adminsitrasi Kep (Pemkab Kep) Seribu tengah berbenah menyambut pemudik. Karena tak sedikit warga Jakarta yang bermukim di Kepulauan Seribu yang merantau ke daratan Jakarta juga berniat mudik. Diperkirakan penyeberangan akan mengalami lonjakan hingga 10 persen. Untuk mengantisipasi hal ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan (Pemkab Kep) Seribu menyiagakan 34 kapal ojek dari Pelabuhan Muaraangke dan Pantai Marina Ancol.
Dalam mengamankan arus mudik, 260 petugas gabungan dari Sudin Perhubungan Kep Seribu serta Polres Kep Seribu disebar di sejumlah titik. Peningkatan lalu lintas kapal penyebarangan diperkirakan terjadi pada jalur yang menuju pulau pemukiman seperti Pulau Tidung, Panggang, Pramuka, dan Kelapa.
Redaksi Terumbu Online setulus hati mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Bathin. Semoga spirit Idul Fitri mendorong kita semua untukmembangun masyarakat Kepulauan Seribu yang lebih sejahtera
Salam hangat
Redaksi
Dia tak takut untuk berubah. Pria yang awalnya bercita-cita menjadi guru ini harus bertahan hidup sebagai nelayan selama puluhan tahun. Kini, Mahmudin berhasil menjadi pengusaha karang hias dari Kepulauan Seribu yang beromzet jutaan rupiah per bulan.
Pria kelahiran Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yang kini berusia 45 tahun itu memulai budidaya karang hias sekitar awal tahun 2003. Mahmudin yang suka belajar dan mengajar ini tak ragu mencoba pengetahuan yang didapatnya dari Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu atau BTNLKpS Sumarto.
Pada program Asia Calling sebelumnya kami menyoroti hutan bakau yang melindungi ibukota Jakarta dari meningginya permukaan air laut, ternyata dikotori dengan sampah.
Meski hutan itu berperan penting sebagai tempat berkembangbiaknya satwa liar dan bisa mencegah erosi, kini kian menghilang.
Sekarang, Ando Sidharta membawa kita ke Kepulauan Seribu untuk bertemu dengan beberapa orang yang berupaya untuk melindungi hutan itu. Laporannya disampaikan oleh Vitri Angreni.
Pada 27 Agustus 2008, staf LINI berkunjung ke Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta untuk melihat perkembangan perikanan hias yang ada di sana. Dalam kesempatan ini staf LINI ikut serta dalam pertemuan para stakeholder yang dipimpin oleh Bapak Ir Abdul Rahman, Bupati Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kelompok Nelayan Penangkap Ikan Hias (KELONPIS), pengepul ikan, Kelompok Nelayan Ikan dan Tanaman Hias (PERNITAS), Yayasan TERANGI, Kelompok Ekowisata Masyarakat “ELANG LAUT” dan para anggota kelompok yang ada di wilayah ini. Isi pertemuan tersebut adalah tentang kebulatan tekad dari masyarakat Kepulauan Seribu dalam menghentikan penggunaan sianida dalam menangkap ikan, baik itu ikan hias maupun ikan konsumsi. Inisiatif yang berasal dari masyarakat ini langsung didukung oleh Pak Rahman dan segenap instansi penegak hukum (yaitu Kepolisian Resort dan Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten).
Pulau Ubi Besar dan Pulau Dapur yang ada di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, kini tinggal sejarah. Kedua pulau yang berada di Teluk Jakarta itu telah tenggelam akibat eksploitasi pasir laut.
Tenggelamnya dua pulau tersebut, menurut Djoko Ramadhan, Bupati Kepulauan Seribu, disebabkan meningkatnya permukaan air laut. Namun, yang lebih dominan sebagai penyebab tenggelamnya kedua pulau itu adalah akibat eksploitasi penambangan pasir untuk kepentingan pihak lain.
Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kepulauan Seribu mengadakan menggelar Seminar Pendidikan dengan mengambil tema “Peningkatan Pendidikan Kepulauan Seribu” dengan Nara sumber Bapak Abdul Syukur, Spd, Msi (Praktisi Pendidikan di Kep.seribu), dan Ust. Drs. Mawardi AG (kepala Mapenda Depag Kepulauan Seribu), dan Mohamad Holid (Pimpinan Pusat IPNU).
Menurut Bapak Abdul Syukur telah terjadi pergeseran budaya dalam mengenyam pendidikan, dulu di Kepulauan Seribu tahu 1978 banyak masyarakat tidak mau jadi PNS karena gaji lebih kecil dari pengahsilan nelayan. kondisi ini berbeda dengan sekarag yang banyak dari pulau yang mengenyam pendidikan hingga S2.
Sistem keselamatan dan keamanan 32 kapal penyeberangan ke Kepulauan Seribu rendah. Jumlah pelampung yang minim, tidak adanya alat navigasi serta data manifest kapal yang diperlukan bila terjadi kecelakaan.
Menurut salah satu calon penumpang yang ditemui di dermaga penyeberangan Muara Angke Tommy Bernadus (28) mengatakan, dirinya sering tidak kebagian pelampung jika ingin menyeberang ke Pulau Pramuka. Satu kapal yang isinya sekitar 70 penumpang hanya disiapkan 20-30 pelampung.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu mendukung rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membangun tiga pulau yang dihasilkan dari proyek reklamasi (pengeringan dan penimbunan laut di wilayah tertentu) di sepanjang pantai utara (pantura) Jakarta. Namun, muncul kekhawatiran pembangunan itu akan menelantarkan dan membuat Kepulauan Seribu terisolasi.
“Jika dengan pembangunan itu transportasi ke Kepulauan Seribu semakin lancar, tentu sangat baik dan didukung. Juga jika masyarakat akhirnya bisa ramai-ramai ke Kepulauan Seribu karena adanya pembangunan itu. Tetapi jangan sebaliknya, karena di tiga pulau itu nantinya ramai, maka orang akhirnya tidak ada lagi yang ke Kepulauan Seribu. Kalau begitu tidak ada manfaatnya,” kata Wakil Bupati Kepulauan Seribu, Asep Syarifudin saat dihubungi SP, Jumat (19/9) pagi.
